Chapter 11 – Akhir dari Bandit
Para penjelajah tak kunjung datang,
sehingga gerombolan bandit pun tak terluka.
Gerombolan bandit pergi dan membawa
kembali mayat-mayat sebanyak dua kali dalam seminggu ini. Keempat mayat yang
dibawa itu memberikan sejumlah 600 DP. Kemungkinan besar terlalu sulit untuk
menangkap mereka hidup-hidup.
… Meskipun aku juga berpikir begitu,
tidakkah ini hasil yang buruk untuk 26 orang? Walaupun satu diantara mereka
hanyalah anak kecil bukan petarung.
Hadiah mereka? Aku memutuskan untuk
menunggu beberapa hari karena mereka belum membunuh di dalam goa, tak ada
gunanya terburu-buru kan?
Ngomong-ngomong, bos bandit bermain
dengan gadis bertelinga anjing itu setiap hari.. hal itu satu-satunya bagian
yang tidak aku anggap damai.
Meskipun dia adalah seorang budak
atau apapun itu, sebagai warga jepang, aku tidak serta-merta dapat menyesuaikan
diri dan menerimanya.
Alih-alih para budak lainnya melayani
gerombolan bandit, hanya salah satu dari mereka yang menjadi mainan. Apakah
dapat dibilang keuntungan apabila, selain bos bandit, tidak ada orang lain yang
mengganggunya?
Sepertinya evaluasi dari bawahannya
kepada dirinya adalah sesuatu seperti [Bos adalah seorang lolicon]. Setelah
mereka bertanya apakah dia akan membeli budak wanita dewasa lagi, dia berkata
bahwa mereka akan mendapatkannya dengan cara merampok.
“….Tapi, dia sama sekali tidak
merasa lelah melakukannya tiap hari..”
“Sekarang yang dia lakukan itu mulai mengganggu penglihatan.”
“Naluriku berkata dia adalah orang baik, tapi sepertinya aku hanya berkhayal~..”
“Sekarang yang dia lakukan itu mulai mengganggu penglihatan.”
“Naluriku berkata dia adalah orang baik, tapi sepertinya aku hanya berkhayal~..”
Namun, Rokuko sepertinya memiliki
banyak karakteristik manusia, dia cemberut melihat seorang gadis belia yang
digunakan sebagai mainan.
“Oi.. Aku tidak suka mereka
mengkontaminasi dungeon dengan cairan tubuh mereka… menjengkelkan sekali.”
“Ah, itu?… Meskipun tidak apa-apa
bagiku untuk mengunakan ruangan master sebagai kamar mandi?”
“Ya, apa boleh buat jika Kehma atau
Gobsuke melakukannya, tak masalah.. karena kurang lebih aku mendatangkanmu
kesini sebagai monster.
“Aku juga dianggap sebagai monster?
…Kalau dipikir-pikir, aku memang didatangkan ya.”
“Sepertinya kau hanya berputar-putar
saja. Jangan bertingkah terlalu santai.. ditambah lagi, oi, tidak adakah cara
untuk membuat mereka pergi?”
“Dengan nada seperti itu, sepertinya
hobimu adalah kotoran. Akan tetapi hobi goblin dan kotoranmu itu sangatlah
buruk.”
“Asal kau tahu saja aku tidak
tertarik dengan kotoran!? Kehma juga salah paham mengenai masalah goblin itu
tahu!?”
Ya, kemarin aku sedikit menggoda
Rokuko.
Sepertinya… hari ini adalah hari berakhirnya kedamaian di dalam dungeon.
Tidak, ini adalah saatnya kedamaian untuk datang, mungkin.
Sepertinya… hari ini adalah hari berakhirnya kedamaian di dalam dungeon.
Tidak, ini adalah saatnya kedamaian untuk datang, mungkin.
“Ah, sesuatu yang luar biasa akan
datang…”
Mendengar Rokuko menggumam pada
dirinya sendiri, aku langsung mengeluarkan peta.
Peta area sekitar… Selama masih
dalam jarak penglihatan dungeon, aku bisa melihat detil informasi dan fitur
geografisnya. Di peta itu nampak titik-titik merah yang menggambarkan musuh
sedang bergerak maju dalam baris-berbaris.
“Sekitar tiga puluh orang ya..
mereka akhirnya datang. Apakah mereka cepat? Ataukah lambat…?”
“Siapa yang datang? Orang-orang
itu?”
“Ya, kemungkinan mereka adalah
kelompok pemberantas. Dan melihat seberapa cepat mereka bergerak, mereka adalah
kelompok yang terlatih. Para ksatria..kemungkinan menjadi akhir bagi para
bandit. Meski tidak mungkin, tapi akan sangat lezat jika mereka bisa selamat.”
Dan sepertinya gerombolan bandit
juga menyadarinya. Aku mengeluarkan monitor semi-transparan dari menu, dan
memutuskan untuk melihat apa yang sedang dilakukan para bandit.
Monitor ini sangat berguna karena
dapat digunakan selayaknya kamera pengawas yang dipasang di dalam dungeon.
Saat kulihat ke monitor, para bandit
bawahan sedang panik melaporkan kejadian itu ke bosnya.
[Bos, berita buruk, para ksatria!
Mereka datang kemari!]
[Apa!? Bagaimana kita bisa ketahuan,
kita telah membunuh semua orang yang mengetahui keberadaan markas kita!?]
Bos bandit menjadi panik. Sepertinya
dia tidak menduga bahwa ksatria akan dikirimkan untuk mengatasi mereka.
[Tidak, mereka hanyalah manusia tapi
seperti kau bilang mereka adalah ksatria, lebih baik untuk tidak terbunuh… ada
berapa banyak?]
[M-maaf, aku langsung kembali
seketika aku melihat mereka menggunakan baju zirah. Paling sedikit, err, lebih
dari 5 orang!]
[Cih, apa boleh buat… baik jumlah
mereka lebih atau kurang dari yang kau sebutkan kita akan sergap mereka di
dalam dungeon.]
[Begitu kah?]
[Begitu kah?]
[Jika jumlah mereka sedikit kita
akan melancarkan serangan kejutan, jika jumlah mereka banyak kita akan
mengepung dan mengurung mereka masuk dari luar. Tamat.]
[Ooh! Jadi begitu, sesuai ekspektasi bos! Baiklah, semuanya mendengar bos! Ayo kita sergap mereka!]
[[[ YEAH! ]]]
[Ooh! Jadi begitu, sesuai ekspektasi bos! Baiklah, semuanya mendengar bos! Ayo kita sergap mereka!]
[[[ YEAH! ]]]
Sepertinya mereka terlihat
bersemangat; apalagi saat berada didalam dungeon.
Hal ini sangat memudahkan. Untungnya
seminggu terakhir ini aku telah mengajarkan kepada bos bandit itu bagaimana
caranya bertarung dengan memanfaatkan lorong dan jalan keluar untuk melakukan
penyergapan. Dan untungnya lagi bos bandit itu tidak cukup cerdas untuk
meloloskan diri dari tempat ini.
“Lalu, bisa kah gerombolan bandit
menang?”
“Semua bergantung pada kekuatan para ksatria itu.. jika kekuatan 30 orang itu sama dengan kekuatan para penjelajah yang datang beberapa waktu lalu, sudah pasti gerombolan bandit itu akan lenyap.
“Semua bergantung pada kekuatan para ksatria itu.. jika kekuatan 30 orang itu sama dengan kekuatan para penjelajah yang datang beberapa waktu lalu, sudah pasti gerombolan bandit itu akan lenyap.
Aku juga melihat apa yang sedang
dilakukan oleh para ksatria itu.
Aku memutuskan untuk melihat sampai mereka menyelesaikan pembantaian gerombolan bandit yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Karena kejadian ini terjadi juga karena hasil dari campur tanganku.
Aku memutuskan untuk melihat sampai mereka menyelesaikan pembantaian gerombolan bandit yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Karena kejadian ini terjadi juga karena hasil dari campur tanganku.
Dari gerombolan bandit yang ada,
delapan orang berada di ruang depan, delapan orang lainnya sedang dalam
perjalanan menuju ruangan inti. Sepertinya penyergapan akan dilakukan di dalam
ruang inti dengan sembilan orang yang ada, termasuk bos bandit itu. Meskipun
mereka telah menyalurkan kekuatan mereka, ruangan yang ada saat ini membatasi
berapa banyak orang yang bisa melakukan penyergapan.
Ketika gerombolan bandit selesai
melakukan persiapan, pasukan ksatria akhirnya sampai di pintu masuk goa.
[Berhenti. Henry-dono, apakah ini
[Goa Sederhana] itu?]
[Ya benar. Besar kemungkinan, tempat ini adalah tempat persembunyian gerombolan bandit.. Beck, aku serahkan kepadamu.]
[Baiklah. Terimakasih atas kerjasamanya.. Kehidupan, bawa ketukan dalam gelombang ku-[Pencarian Kehidupan].]
[Ya benar. Besar kemungkinan, tempat ini adalah tempat persembunyian gerombolan bandit.. Beck, aku serahkan kepadamu.]
[Baiklah. Terimakasih atas kerjasamanya.. Kehidupan, bawa ketukan dalam gelombang ku-[Pencarian Kehidupan].]
Seorang ksatria dengan baju zirah
lengkap menggunakan skill miliknya. Setelah beberapa saat, sebuah gelombang
transparan menyebar di sekitar tubuh ksatria yang menggunakan skill itu…
Melihat dari namanya, sepertinya skill itu digunakan untuk mencari makhluk
hidup yang ada di sekitar. Aku berpikir apakah skill itu menggunakan basis
lokasi gema?
Paling tidak dengan ini, penyergapan gerombolan bandit itu telah kehilangan fungsinya.
Paling tidak dengan ini, penyergapan gerombolan bandit itu telah kehilangan fungsinya.
[Hmm… dari yang aku dengar, paling
tidak ada delapan orang berada di depan. Mereka bersiaga untuk melakukan
penyergapan.]
Seperti yang dia katakan, memang ada
delapan orang bandit menunggu di ruangan pertama.
…Mungkinkah pendengarannya tidak bisa mencapai melalui pintu kayu? Atau mungkin hanya karena jarak efektif skill itu?
…Mungkinkah pendengarannya tidak bisa mencapai melalui pintu kayu? Atau mungkin hanya karena jarak efektif skill itu?
[Demikian informasi yang ada.]
[Baiklah, saatnya kita jalankan
operasi pemberantasan bandit. Meskipun sepertinya mereka tidak memiliki
tahanan.. untuk berjaga-jaga, kita akan menggunakan obat tidur.]
[Siap! Mengerti!]
[Lima orang tetap tinggal dan berjaga-jaga akan serangan dari luar. Sisanya, lakukan pengepungan di pintu masuk. Bunuh semua bandit yang kabur.]
[Siapi Laksanakan.]
[Lima orang tetap tinggal dan berjaga-jaga akan serangan dari luar. Sisanya, lakukan pengepungan di pintu masuk. Bunuh semua bandit yang kabur.]
[Siapi Laksanakan.]
Sekelompok pasukan ksatria mengambil
posisi, mengepung pintu keluar goa. Mereka mulai membakar dupa di depan pintu
masuk.
…Jadi begitu rupanya? Memang, tidak
ada gunanya untuk masuk secara sengaja ke dalam penyergapan.
Setelah dupa terbakar selama
beberapa saat, tiba saatnya gerombolan bandit itu untuk bergerak.
Ketika mereka mencium aroma dupa,
mereka tidak bisa menahan kantuk dan mulai jatuh kehilangan kesadaran.
[Gu, bau ini… mereka menggunakan
obat tidur! L-lari, kembali ke ruang belakang!]
[Tidak, kita harus segera menyerang
sebelum kita tidak bisa bergerak! Jumlah mereka pasti hanya sedikit jika mereka
menggunakan trik seperti ini. Ayo!]
[Jika kita menutup pintu, asap nya..
ugu-.. a-apa yang harus kita lakukan…]
[Hmph, pengecut, kalian tidur saja dengan
nyenyak. Aku akan membunuh mereka semua!]
Satu dari anggota baru yang
sebelumnya telah berhasil menghabisi para penjelajah di dalam goa, kini menjadi
anggota tingkat atas, dia bersama dengan lima budak nekat lainnya pergi menuju
keluar goa.
Satu-satunya bandit tersisa, yang
tidak jatuh karena rasa kantuk, adalah orang yang menyarankan untuk mundur… dia
berusaha berjongkok dan memukul perutnya.
Sedangkan enam orang lainnya yang
pergi keluar, kekuatan mereka menurun karena rasa kantuk yang kuat. Mereka
tidak dapat berbuat apa-apa melawan sabetan pedang dari para ksatria yang telah
mengepung pintu masuk. Dengan sudah payah mereka mengayunkan pedang tumpul
mereka, meskipun dapat dengan mudah para ksatria itu untuk menangkis serangan
mereka.
Mendengar jeritan rekan banditnya di
luar, dia menggumam [Ahh, keputusanku benar…] Dia pun tertidur bersama dengan
delapan orang lainnya, terjatuh.
Dari awal, kesalahan yang dia buat
sebenarnya adalah keputusannya untuk bergabung dengan gerombolan bandit ini,
meski sepertinya dia tidak menyadarinya.
Walaupun aroma dupa telah menipis
mereka tidak dapat memastikan kapan saatnya aroma itu tidak akan membuat mereka
tertidur, akhirnya para ksatria itu menggunakan [Pencarian Kehidupan] lagi.
[[Pencarian Kehidupan]… Hmm, saat
ini ada dua orang tersisa.]
[Baiklah… jalan masuknya sempit. Kita akan masuk dalam barisan dua orang. Hati-hati.]
[Baiklah… jalan masuknya sempit. Kita akan masuk dalam barisan dua orang. Hati-hati.]
Pasukan itu memasuki dungeon satu
per satu… Namun, keputusan mereka sebelumnya untuk mengambil posisi di luar goa
berarti mereka sudah mengetahui di dalam gua ini adalah sebuah dungeon.
Yap, memutuskan untuk memperluas
tempat ini adalah keputusan tepat. Jika tidak begitu, DP dari enam orang yang
terbunuh itu akan terbuang sia-sia.
[…Baiklah, dua bandit tersisa.
Pastikan untuk membunuh mereka.]
[Tidak apa-apa kah?]
[Saat ini kita sudah tidak bisa
menarik keputusan yang kita buat. Selain itu, sudah menjadi tugas kita untuk
meratakan dengan tanah tempat persembunyian bandit ini. Jika kita menghancurkan
kepalanya, tidak akan bermasalah jika kita menyerahkan sisanya kepada para
penjelajah… Lihat, kita masih jauh dari ujung goa. Kemungkinan di dalam sana
masih ada bandit yang lebih cakap dibandingkan para bawahan yang mereka
posisikan di pintu masuk goa… Meskipun akan lebih bagus jika di awal tadi kita
telah mengalahkan bos bandit.]
[Pastinya]
Ketika mereka memenggal kepala dua
bandit yang tertidur itu, DP pun masuk.
Aku merasakan tarikan pada bajuku, dan aku melihat ke arah Rokuko. Di wajahnya tampak ekspresi yang tak biasa.
Aku merasakan tarikan pada bajuku, dan aku melihat ke arah Rokuko. Di wajahnya tampak ekspresi yang tak biasa.
“Apakah tidak masalah jika kita
tidak mengambil jasad dari mayat-mayat itu? Sayang sekali.”
“…Kau benar benar tidak boleh
meresap mayat-mayat itu tahu? Jika kau melakukannya, kita tidak akan bisa
memperdaya mereka lagi.”
“Memperdayai mereka?”
“… Jika mereka tahu bahwa dungeon
ini memakan manusia, atau dungeon muda ini mengumpulkan energi, mereka akan
menganggap bahwa dungeon ini berbahaya dan memutuskan untuk menghancurkan
intinya. Meskipun begitu kurang lebih aku memiliki jaminan untuk itu…”
“Uu, aku akan mati jika mereka
menghancurkan intinya.. Jaminan? Jaminan apa?”
“… Hei, ingat ruangan goblin yang
aku buat beberapa waktu lalu?”
“Ooh, area yang kau buat tak jauh
dari sini! Tempat itu adalah [Goa Sederhana] tiruan itu kan?”
“Benar. Karena dunia ini tidak
memiliki peta yang sangat akurat, kita mungkin bisa mengelabui mereka meski
posisi goa sedikit bergeser… mungkin, yah, bisa jadi mereka akan menerimanya
dan salah mengira bahwa goa ini adalah goa biasa. Tapi kemungkinannya cukup
kecil sih…”
“Un un, aku mengerti… Hah? Bagaimana
dengan inti dungeonnya?”
Faktanya, dengan meletakkan inti
tiruan, aku memerlukan fungsi tukar.. Tidak ada pilihan lain, meskipun
sebenarnya aku ingin menyimpan fungsi yang secara instan dapat menukar tempat
dengan inti dungeon ini untuk keadaan darurat (fungsi ini dapat digunakan
meskipun penyusup ada di dalam ruang inti). Karena fungsi ini membutuhkan 5000
DP, kita tidak bisa menggunakannya sampai kemarin. Namun demikian, alat untuk
menggunakan fungsi ini tidak dapat dipasang apabila penyusup berada di dalam
bagian penting dungeon.
“…Begitulah, karena kita telah
memisahkan area yang ada dengan pintu, ketika saatnya tiba kita akan membuat
ruang inti menjadi ruangan jebakan yang tak tertembus.”
Dengan membagi area yang ada seperti
itu, kita dapat memasang jebakan walaupun penyusup ada di area lainnya.
…Tentunya, bila di dalam satu ruangan itu tidak ada penyusup. Syarat itu tetap bisa berjalan.
…Tentunya, bila di dalam satu ruangan itu tidak ada penyusup. Syarat itu tetap bisa berjalan.
“Akan tetapi sekarang bos bandit itu
sedang menunggu di dalam ruang inti.”
Tentu saja, gerombolan bandit itu
sama saja dengan penyusup.
“Benar.. dengan kata lain, saat ini
kita ingin mereka untuk tidak menghiraukan kita dan menunjukkan pada mereka
bahwa kita hanyalah dungeon tak berbahaya.”
“Aku mengerti, jadi itulah kenapa
aku tidak boleh mengambil mayat-mayat itu. Kalau begitu, bagaimana mereka
mengabaikan kita?”
“…U-untuk saat ini lihat dan tunggu
saja.”
Sebenarnya, tidak ada yang bisa dia
lakukan saat ini.
Dia kemudian berpaling kembali ke arah pasukan ksatria itu.
Dia kemudian berpaling kembali ke arah pasukan ksatria itu.
[Apakah ruang harta disini? Sebuah
tempat tidur.. u-]
[… Tempat ini baunya berbeda. Apakah
ada perempuan juga diantara mereka? Tapi mereka tidak menggunakan
[Pembersihan].. Baunya menyengat sekali, bahkan jika mereka menggunakannya pun
tidak akan cukup untuk menghilangkannya.]
Saat ini, para ksatria itu memeriksa
kamar tidur bos bandit.
Kamar ini adalah tempat dimana dia
memainkan gadis bertelinga anjing itu. Ngomong-ngomong, gadis itu sedang
bersembunyi di bawah tempat tidur. Tatapannya tetap kosong seperti ikan mati
dan dia bahkan tidak bergerak sedikitpun.
Tanpa menemukan gadis itu, para
ksatria berpindah ke ruang lainnya.
Meski ksatria itu kemungkinan dapat
menemukannya jika mereka menggunakan [Pencarian Kehidupan], namun mereka tidak
melakukannya. Apakah ada batasan penggunaannya? Mereka sepertinya tidak bisa
menggunakannya untuk sekedar menyelidiki. Ksatria yang nampak sebagai kapten
yang sebelumnya telah menggunakan [Pencarian Kehidupan] di luar goa tadi, saat
ini sedang memberikan instruksi ke bawahannya yang berada di ruang masuk.
Kamar tidur bos bandit sebelumnya
digunakan sebagai penjara.
Mereka melakukannya untuk menangkap orang-orang yang mereka serang, namun pada akhirnya tidak mereka gunakan. Dan diganti sebagai ruang harta.
Mereka melakukannya untuk menangkap orang-orang yang mereka serang, namun pada akhirnya tidak mereka gunakan. Dan diganti sebagai ruang harta.
[Tidak begitu bagus eh.]
[Apakah kita datang di saat yang
kurang tepat? Jika saja kita datang kesini lebih awal mungkin saja masih ada
barang berharga yang bisa kita gunakan untuk mengisi ulang persediaan kita..
sepertinya kita datang agak terlambat…]
[Oi, jaga ucapanmu. Tapi yah,
bukankah sudah cukup dengan sake yang kita dapatkan ini?”
Meski begitu, para ksatria itu
mengambil barang-barang berharga yang ada di ruangan sebelumnya. Walaupun tidak
ada barang yang benar-benar bernilai tinggi. Roti yang ada pun sudah berjamur
dan mereka buang.. Peralatan sihir yang dapat memancarkan sinar?
Fungsinya sama saja seperti lentera… Hal ini karena bos bandit itu telah
membawa semua barang berharga yang dapat digunakan dalam pertempuran ke dalam
ruang inti.
Jadi, barang-barang yang tersisa
hanyalah makanan basi dan jarahan tak berharga. Secara terpaksa, para ksatria
itu pun memasukkan makanan yang ada kedalam boks mereka dan membawanya keluar.
Setelah makanan itu dibawa keluar,
mereka melanjutkan pencarian mereka.
Seorang ksatria menempatkan tangannya ke pintu kayu, berusaha untuk membukanya. Sesaat itu juga sebilah pedang menusuk keluar dari arah pintu.
Seorang ksatria menempatkan tangannya ke pintu kayu, berusaha untuk membukanya. Sesaat itu juga sebilah pedang menusuk keluar dari arah pintu.
[Guah!?]
Ini bukan lah perangkap. Dibalik
pintu itu ada seorang bandit yang menusukkan pedangnya ke arah ksatria yang
mencoba untuk membuka pintu.
Kemudian, pintu itu pun hancur
seketika dengan sabetan pedangnya.
[Uoaaaaah!]
[Gu-!? Ryan, menyingki-! Uooooh!]
[Gu-!? Ryan, menyingki-! Uooooh!]
Prajurit yang terluka mundur dan
pertarungan pun berlangsung.
[Sialan, karena mereka mencoba
menyergap kita di pintu masuk, aku menjadi lengah… Cahaya, sembuhkan lah
luka orang ini—[Penyembuhan]!]
[M-maaf, kapten… gu-u…!]
[M-maaf, kapten… gu-u…!]
Dikelilingi oleh cahaya dari sihir,
prajurit yang terluka intu sembuh dari luka yang dideritanya. Luka sabetan yang
lebar itu menutup dan pendarahannya berhenti. Meski dia masih lelah dan lemah,
keadaannya sudah tidak mengancam nyawanya.
….Jadi itu sihir pemulihan ya. Ini
pertama kalinya aku melihatnya.
Ah, pertarungannya sudah selesai saat aku sedang mengagumi sihir itu.
Ah, pertarungannya sudah selesai saat aku sedang mengagumi sihir itu.
[Maaf, Haggis juga terluka dalam
pertarungan yang baru saja terjadi. Tolong sembuhkan dia.]
[Sial, ini terlalu melelahkan.. Bisa
kah kau mengambil alih pimpinan bila nanti aku pingsan? Cahaya, sembuhkan luka
orang ini—[Penyembuhan].]
[Tidak ada cara lain jadi apa boleh
buat. Karena hanya kapten yang bisa menggunakan sihir pemulihan, aku tidak…
Sungguh, akan sangat berguna bila ada lebih banyak gulungan pemulihan di
pasaran…]
[Memang tidak ada cukup gulungan
sihir pemulihan yang diproduksi, karena Gereja telah memonopoli penggunaannya…]
Hmm, mendengar itu merupakan berita
bagus.. Ngomong-ngomong, sepertinya aku bisa menukarkan 100000 DP untuk
mendapatkan gulungan penyembuhan. Menyebutnya langka… harganya sama dengan
harga naga yang paling murah. Yep.
Meski begitu, jika mereka dapat
sembuh dari luka yang mereka derita, sudah tidak ada kemungkinan lagi bagi para
bandit untuk menang.
[Baiklah kalau begitu. Aku telah
memeriksa Ryan beberapa saat lalu, berhati-hati lah akan serangan kejutan oke?
… Walaupun [Goa Sederhana] ini dikabarkan hanyalah sebuah dungeon yang sangat
pendek.]
[Kapten. Ada beliung di sana.
Sepertinya bandit itu berniat menggali ruangan lagi.]
[Hah? Dinding dungeon akan kembali
seperti semula meski mereka menggalinya. Mengapa mereka melakukan hal seperti
itu?]
[Aku tak tahu, tapi… ada banyak
bekas galian dalam mereka didinding.]
Begitukah? Aku melihat ke arah
Rokuko.
“Biasanya, lubang yang terbuka akan
tertutup kan. Bukan kah manusia juga begitu?”
“Seperti luka gores yang sembuh
dengan sendirinya hah.”
“Kira-kira seperti itu. Walaupun
rasanya tidak sakit.”
[Hmm..? Apa maksudnya ini? Meskipun
sudah jelas sangat tidak wajar gerombolan bandit untuk bermarkas di dalam
dungeon, mungkin hal ini berkaitan dengan itu?]
[Tidak mungkin, gerombolan bandit
itu bos dungeon ini?]
[Hahaha, aku tidak pernah mendengar
cerita manusia yang menjadi bos dungeon. Mungkin bandit-bandit itu sebenarnya
jelmaan naga?]
[Ruangan-ruangan disini terlalu
kecil untuk dapat menampung naga.]
Para ksatria itu dengan hati-hati
melanjutkan pencarian mereka di dalam dungeon sambil bercanda satu sama lain.
Sedangkan para bandit yang tersisa,
sembilan orang menunggu di dalam ruang inti.
Meskipun mereka tidak memiliki
pilihan lain selain menghabiskan waktu mereka untuk memeriksa tiap delapan
ruangan yang ada di dalam dungeon, pada akhirnya para ksatria itu tiba di depan
ruang inti… Namun, mereka tidak mengetahui bagaimana cara untuk membuka pintu
menuju ruang inti.
Aku berpaling melihat ke gerombolan
bandit itu.
Seorang bawahan yang menempelkan telinganya pada pintu untuk melaporkan yang dia dengar pada bos bandit.
Seorang bawahan yang menempelkan telinganya pada pintu untuk melaporkan yang dia dengar pada bos bandit.
[… Sepertinya mereka telah tiba.]
[Baik lah. Persiapkan busur kalian
dengan tenang.. Panah mereka semua sampai mati begitu mereka membuka pintu]
[Kami mengerti, Bos.]
[Fuu. Mereka pasti sudah kelelahan
saat tiba disini. Jika memang begitu, kita akan mengakhiri ini semua dan
langsung menekan mereka.]
Kenyataannya mereka sudah pulih
semua. Aku berpikir apa yang akan mereka lakukan bila aku mengatakan pada
mereka bahwa para ksatria itu tidak memiliki kemungkinan untuk kalah.
….Kemungkinan aku akan mati karena
inti dungeon dihancurkan karena kegusaran mereka.
…Kriiieeek, pintu kayu menuju ruang
inti pun terbuka perlahan.
Pada saat itu terjadi, bos bandit
memberikan sinyal untuk melesatkan busur mereka. Panah-panah pun dilesatkan ke
arah pintu masuk.
Dengan benturan keras, terdengar
suara panah-panah menghantam baju zirah. Meski begitu, hanya salah satu dari
mereka. Salah satu dari mereka sangat beruntung—dan merupakan skenario terburuk
bagi para ksatria—sebuah panah menusuk lolos ke area terbuka penglihatan milik
helm ksatria, menembus ke dalam otaknya.
Dari ujung penglihatanku aku dapat
melihat nilai DP ku naik. Sepertinya dia mati dalam satu serangan.
[Ryui! Sialan, tidak bagus! Dia tidak selamat!]
[Cih..! Hanya satu orang!]
[Bos!]
[Kalian! Serang sendi-sendi mereka! Zirah kita akan membelok-]
Si bos pun menebasnya.
[Ugh-sialan kau, dasar Muntahan
Melon!!]
[Jangan panggil aku seperti itu!]
[Uwaaah!]
[Jangan panggil aku seperti itu!]
[Uwaaah!]
Dengan penuh amarah, bos bandit mengayunkan
pedangnya Kekuatannya menebas tubuh ksatria itu, dan membuatnya tersentak. Dia
menusukkan pedangnya ke area tubuh ksatria yang tidak terlindungi zirah—Dengan
dahsyat dia merobek bagian dalam ksatria itu. Aku melihat DP ku meningkat lagi,
sepertinya dia juga mati.
Aku tidak ingin melihat apa yang ada
di dalamnya..
Lagian, panggilan macam apa Muntahan Melon itu?
Lagian, panggilan macam apa Muntahan Melon itu?
[Ap-, tidak sopan memuntahkan melon
saat makan bersama Hime-sama!]
[Beraninya kau melakukan itu ke Ryui
dan Eijin, dasar kau Muntahan Sialan!]
[Melon itu sudah busuk! Itu bukan
salahku! Mengapa kau harus mengambil hadiah uangkuuuuuuu!]
[Selain memuntahkan melon, kau juga
membunuh kokinya setelah salah menuduhnya telah memberimu melon busuk! Tepat di
hadapan Hime-sama!]
[Diam! Dia hanya cemburu Hime-sama
jatuh cinta kepadaku! Aku sudah jadi Kaisar saat ini jika bukan karena dia!]
Ah, terima kasih sudah menjelaskan
mengenai Muntahan Melon. Aku benar-benar telah mengetahui lebih dari yang aku
kira.
Setelah itu, Muntahan Melon
bertarung melebihi dugaan karena dia mengamuk.
Selain membunuh satu orang dengan pedangnya, dia juga membuat banyak luka pada ksatria .
Tapi hanya itu yang bisa dia lakukan.
Selain membunuh satu orang dengan pedangnya, dia juga membuat banyak luka pada ksatria .
Tapi hanya itu yang bisa dia lakukan.
Dengan bantuan para ksatria lainnya
yang saling membantu satu sama lain, mereka akhirnya berhasil membuatnya
kelelahan. Para ksatria berhasil mengepungnya, dan menutup pergerakannya.
Saat itu juga, sebelum dia menyadarinya, sebilah pedang menusuk ke perutnya.
Saat itu juga, sebelum dia menyadarinya, sebilah pedang menusuk ke perutnya.
[Sialan.. setelah semua itu..
meskipun..]
Jatuh di kedua lututnya. Muntahan
Melon pun dikalahkan.
Dengan menjambak rambutnya, seorang ksatria memaksa mengangkat wajahnya.
Dengan menjambak rambutnya, seorang ksatria memaksa mengangkat wajahnya.
[Oi, dimana rekanmu yang lain?
Muntahan Melon.]
[Cih.. Semua orang ada disini karena dia, sialan.. mengapa… meskipun aku telah melakukan apa yang diperintahkan…]
[Cih.. Semua orang ada disini karena dia, sialan.. mengapa… meskipun aku telah melakukan apa yang diperintahkan…]
Meskipun kalimat terakhirnya sedikit
lemah, namun ksatria itu dapat mendengarnya.
Dengan begitu, semua bandit telah menjadi DP.
Dengan begitu, semua bandit telah menjadi DP.
[Apakah ada dalang dibalik semua
ini?… Meskipun ada bukti keberadaan perempuan disini, sepertinya mereka sudah
melarikan diri.]
[Meskipun dia bilang semua orang..
Aku tidak mengerti. Tunggu, sepertinya ruangan ini adalah inti dungeon.]
[Heeeh, disini.. itu adalah inti
dungeon eh? Ini pertama kalinya aku melihatnya.]
[Seperti yang kudengar, tempat ini
adalah dungeon kecil. Tangga pun tidak ada.]
Salah satu dari ksatria itu
menghunuskan pedangnya ke arah inti dungeon.
[Baiklah kalau begitu, harus kah aku
menghancurkan intinya?]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar