The New Gate Volume 5 Chapter 2 Part 5 - Sekkinokyou

Latest

Fans Tranlation LN/WN Bahasa Indonesia

Minggu, 22 April 2018

The New Gate Volume 5 Chapter 2 Part 5




Volume 5 Chapter 2 Part 5



Sambil bergerak menuju kerumunan monster, seorang prajurit muda memiliki pikiran.

Dia akan mati disini.

Chosen Ones, seperti Schnee Raizar, dapat memusnahkan semua kerumunan monster dengan seorang diri.

Tapi, jika monster kelas mutasi yang seperti ogre yang tidak terdeteksi dibiarkan, mereka pasti akan mencapai Balmel sebelum pasukan bantuan tiba. Bahkan dengan tembakan yang sangat kuat, yang berasal dari benteng, dapat mereka tangkis. Karena pertahanan di dalam benteng lebih lemah dibanding luar benteng, dia tidak tau berapa besar kerusakan yang akan terjadi jika gerbangnya hancur.

Oleh karena itu, pasukan bunuh diri yang terdiri atas pasukan level tinggi dari pasukan berkuda akan maju untuk mengulur waktu.

Dia takut kematian. Tidak peduli berapa lama dia berlatih, rasa ketakutan yang satu ini tidak bisa ia atasi. Dan lagi, sang pemuda dan para Knight yang ada disekitarnya memilih untuk bertarung. Bahkan jika mereka hanya bisa memberi waktu walaupun itu sedikit, mereka percaya bahwa itu akan melindungi Balmel.

“50 mel sebelum berkontakan dengan musuh――!!”

Berkat latihan mereka, mereka  dapat mengira-ngira jarak mereka ke target. Itu adalah jarak antara mereka dengan kematian.

Karena serangan yang dikeluarkan barusan, hampir tidak ada monster diantara mereka dan monster kelas mutasi. Apa mereka takut dengan serangan prajurit berkuda? Atau mereka takut monster kelas mutasi akan menyerang mereka? Sang pemuda berpikir mungkin yang terakhir yang benar.

“20 mel lagi!”

“Monster-monster sekitar sepertinya melihat ke sesuatu tempat!! Cukup berikan perhatian kalian ke monster kelas mutasi!!”

Sang Kapten dari pasukan bunuh diri berteriak. Karena monster kelas mutasi terlihat berbeda dari kejauhan, ketika mata mereka semakin dekat, para Knight menjadi terimidasi.

Besar sekali.

Itu dijelaskan hanya dalam 2 kata.

Tubuhnya seperti monster tipe raksasa, seperti Gigante atau Cyclop, yang hanya didengar dalam dongeng. Itu tidak terpikirkan bahwa apa pun bisa diangkatnya, tapi monster kelas mutasi mengangkat kapak tinggi sementara mereka masih jauh.

“SIAL!! Jaga JARAK!! Semuanya MENYEBAR!!”

Para Knight merespon serentak tanpa ada yang tertinggal, kapten yang memprediksi adanya bahaya, berteriak.

Pemuda yang mengendarai kuda juga menghindari kapak yang musuh ayunkan.

Dia pikir dia sudah menghindarinya.

“Gu!!”

Dia telah menghindari serangan langsung. Tapi, pemuda itu terjatuh dari kudanya. Dia terlempar ke tanah dan hampir kehilangan kesadarannya dari dampak yang terjadi dalam sekejap. Tapi, hidupnya akan berakhir jika dia pingsan sekarang, jadi dengan putus asa dia mempertahankan kesadarannya.

“Kua...”

Apa yang masuk ke dalam penglihatannya adalah sosok Knight lain yang terjatuh dari kuda dengan cara yang sama yang dia alami. Ketika dia menaruh kekuatan ke dalam tubuhnya untuk berdiri, dia menyadari bahwa kaki kirinya tidak mau bergerak.

“Ah Sial...”

Dia mungkin terlempar bersama dengan kuda kesayangannya. Saat dia melihat ke arah kakinya, dia melihat kakinya tertiban oleh kuda. Meski dia menarik kakinya keluar, kakinya tetap tidak keluar.

Kemudian, sebuah bayangan jatuh.

“ah...”

Saat dia melihat ke atas, di hadapannya ada monster kelas mutasi.

Tidak ada tanda-tanda kecerdasan dibalik mata merahnya. Hanya perasaan haus yang keluar dari tubuhnya saja yang terasa. Monster tersebut mengangkat kapaknya menggunakan otot-ototnya yang besar. Sudah tidak ada waktu lagi untuk menarik kakinya.

“――――――!!”

Dia akan mati beberapa saat lagi.

Meski dia mengetahuinya, pemuda yang gemetaran masih menarik pedang yang ada di pinggangnya, dan bersiap-siap untuk bertarung melawan monster kelas mutasi.

Sejak awal, dia sudah mati. Saat dia menahan teriakannya, dia menelan ketakutan yang memenuhi hatinya dan memelototi monster kelas mutasi.

Pergerakan monster kelas mutasi lambat.

Rupanya, tidak ada perubahan pergerakan pada monster kelas mutasi yang ada didepannya. Berhadapan dengan kematian, sang pemuda merasa waktu berjalan lebih lambat saat menghindari serangan itu.

Tapi, tidak peduli seberapa banyak waktu yang dibutuhkan, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Dia hanya bisa menatap kapak yang mendekat dengan perlahan.

Dalam sekejap, kuda kesayangannya akan dibelah oleh kapak monster kelas mutasi.

Atau begitu sang pemuda berpikir,

Kemudian, yang selanjutnya adalah dia sendiri.

――――Dia pasti akan terbelah.

“Owa!!”

Ini terlalu mendadak.

Sesuatu telah turun diantara monster kelas mutasi dan pemuda.

Tidak, lebih tepatnya jatuh.

Dampak dari sesuatu yang jatuh itu menyebabkan tanah bergetar.

Saat awan debu menghilang, apa yang muncul di depan mata pemuda yang tertegun itu adalah seseorang dengan armor yang memenutupi seluruh tubuhnya dan membawa Scythe besar.

Desain armor tersebut sangatlah berbeda dengan desain yang dia kenali. Warna yang dipantulkan dibawah sinar matahari adalah merah, thick cardinal,vivid scarlet , dan bright coral. Berbagai macam warna merah yang dipantulkan menjadikan pantulan yang begitu indah dan menyebabkan armor terlihat seperti api yang mempunyai bentuk manusia. (T/N: thick cardinal,vivid scarlet , dan bright coral adalah macam2 warna merah.)

Armor tersebut dihiasi dengan dekorasi yang ditempatkan di berbagai tempat. Dengan melihatnya saja, dia mengerti bahwa armor tersebut dibuat oleh pengrajin yang sangat terampil. Semakin lama dia melihatnya, semakin besar perbedaan stat yang ia rasakan.

Dia bisa merasakan ketidakrataan Scythe yang di letakan di bahu sosok tersebut dari kurangnya keseragaman bilah pedang dan porosnya. Sebuah pola seperti mata tergambar di tempat dimana tangkai bertemu dengan bilah pedang;  Itu lebih mirip seperti senjata yang digunakan untuk upacara daripada senjata yang dimaksudkan untuk medan perang. Anehnya, senjata tersebut terlihat bagus jika dipasangkan dengan armor yang dikenakan.

“………”

Karena pemuda itu terpesona oleh sosok tersebut, dia tidak mengatakan apapun. Terkena kekuatan yang sangat luar biasa yang keluar dari seluruh tubuh sosok itu, tubuhya tidak akan mendengarkan apa yang diinginkannya. Meskipun dia juga melakukannya ketika sosok itu muncul.

Walaupun punggung orang itu berbalik, sang pemuda merasakan tekanan dari intimidasi yang sangat kuat yang dia terima dari kelas mutasi yang sekarat.

Saat pemuda lain melihat monster kelas mutasi ketika mereka berdiri berhadapan secara langsung dan saling berhadapan, gerakannya berhenti saat kapak dinaikkan.

Matanya terbuka lebar, dan meskipun pikiran mereka rusak, mereka dengan jelas menunjukkan rasa ketakutan.

(Untuk monster seperti itu bisa kewalahan!!)

Seberapa banyak kekuatan yang dibutuhkan untuk bisa seperti itu?

Diantara seluruh Chosen One, tidak ada satupun yang memiliki keberadaan seperti orang yang ada di depannya.

Karena dia sedang berada di tepi kematian, intuisi nya menjadi tajam sampai ujung batasnya dan membuatnya menyadari sesuatu.

Orang yang berada di depannya memiliki kekuatan yang setara dengan Schnee Raizar. Dan orang tersebut berada di pihak nya.

“Apa kau baik-baik saja?”

“...Eh?”

Dia tidak lupa, tapi untuk sesaat sang pemuda tidak dapat mengerti perkataan yang ditujukan kepadanya. Dilihat dari suaranya, sepertinya orang yang memakai armor adalah seorang pria.

Saat dia melihat kedepan, orang yang berada di depannya sampai saat ini, memindahkan kuda yang menimpa pemuda itu dan menarik kakinya.

“A-Aku tertolong... hei, be-belakang mu!!”

Karena bingung, dia bangun dengan cepat, dan saat dia melihat ke depan, monster kelas mutasi terus menaikan kapaknya.

Sekarang bukanlah saatnya untuk menolong orang lain. Sang pemuda berteriak sambil menunjuk arah belakang pria berarmor. Nadanya kasar seperti memarahi, mungkin karena dia sedang terburu-buru.

“Hm? Oh iya.”

Itu adalah jawaban yang biasa.

Kemudian, pria berarmor yang seharusnya ada di depannya, menghilang. Pada saat bersamaan pria berarmor menghilang, suara keras masuk ke dalam telinga sang pemuda.

Jika dia harus menjelaskannya dengan kata-kata, maka mungkin akan seperti “BAM!”. Karena suara yang sangat keras itu, tubuh sang pemuda menjadi kaku.

Sungguh beruntung dia tidak menutup matanya. Jadi dia dapat melihat sumber suara itu.

“……….”

Sang pemuda terdiam dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya.

Di depannya, yang tadinya ada monster kelas mutasi, sekarang hanyalah pria berarmor yang sedang mengulurkan tinjunya.

Monster kelas mutasi sekarang sudah tidak terlihat dan itu bukan karena dia melarikan diri.

Di hadapan pukulan tinjunya, hanya ada tangan monster kelas mutasi yang memegang kapak yang tergeletak di tanah.

“Ha, haha...”

Adegan spektakuler yang terjadi di hadapannya membuatnya kehilangan akal.

Satu serangan.

Tanpa senjata, murni kekuatan fisik.

Tubuh monster kelas mutasi yang menerima serangan meledak hingga berkeping-keping dan beberapa monster yang terkena muncratan darah berteriak.

Ditambah lagi, tangan pria berarmor yang dilapisi sarung besi itu tidak memiliki goresan sedikitpun.

Sekarang, dia hanya bisa tertawa.

“Kau, siapa kau...”

“Aku? Baiklah... Karena warna armorku merah, panggil saja aku Red.”

――Red, orang yang telah mengalahkan monster kelas mutasi tanpa luka sedikitpun, memberikan sebuah nama yang sudah jelas palsu.

“Yah, namaku tidaklah penting. Selain itu, kau bisa serahkan tempat ini padaku, dan kalian semua harus bergabung dengan pasukan utama.”

“Ah, baiklah, aku berterimakasih atas bantuannya. Tapi kami adalah sisa-sisa pasukan, bertarung bersama mu――”

“Tidak, aku tidak mengijinkannya. Aku akan lebih khawatir jika kau tetap berada di dekatku.”

“Khawatir?”

“Ketika ada seseorang yang berada di dekatku, aku tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuanku. Jika bisa, tarik mundur seluruh kelompok mu termasuk kelompok yang menggunakan sihir ke dalam benteng.”

“Tapi”

“Maaf, tapi ini bukanlah saran. Selain itu, siapapun yang tidak mundur akan terbunuh. Semacam itulah jenis senjata ini. Apa kau mengerti?”

Red mengangkat Scythe yang ada di bahunya untuk menunjukanya.

Dari dekat, terlihat jelas betapa besarnya Scythe itu.  Hanya setengah dari panjangnya saja sudah lebih dari 3 mel, dan bilah pedangnya sendiri lebih dari 2 mel. Bilah pedangnya cukup lebar, dan sesuatu seperti garis zig-zag menjalar di tengah bilah pedang.

Sang pemuda merasa bahwa garis tersebut tampak seperti sebuah ‘mulut’. Dia memiliki firasat bahwa ‘mulut’ itu bisa terbuka kapan saja dan akan menggigitnya.

Sang pemuda saat ini mengerti mengapa Red menginginkan seluruh pasukan mundur.

Scythe itu berbahaya. Mustahil bertempur  bersamanya. Dia akan terbunuh terlebih dahulu sebelum dia dapat mendekat.

Senjata yang sangat kuat itu dibuat untuk membunuh kawan maupun musuh.

“Itu adalah Cursed Weapon...”

“Benar”

Red membalasnya dengan nada datar. Jika dilihat dari situasi, itu membuatnya terlihat sedikit aneh.

Bagi penduduk di dunia ini, ada beberapa jenis Cursed Weapon dan mereka semua sama sama mengundang kehancuran.

Meskipun ini adalah pengetahuan dasar, tidak ada tanda-tanda yang menunjukan Red mengetahui hal tersebut. Meski dia memiliki Cursed Weapon, yang katanya dapat menggerogoti kewarasan dan kehidupan, nada dan sikapnya begitu normal.

“Kenapa――――”

“Maaf, tapi tidak ada pertanyaan lagi. Sudah tidak ada waktu lagi dan sudah ada seseorang yang datang untuk menjemputmu.”

Dibelakang sang pemuda, Knight yang berhasil kabur datang untuk menjemput temannya.

“Kau?”

“Aku Red. Aku sudah mengatakannya kepada Knight muda ini, tapi maaf aku akan mengambil alih tempat ini. Kalian semua mundurlah.”

“………”

Orang yang memanggil Red adalah Knight yang dipercayakan untuk menjadi kapten dari pasukan bunuh diri. Tidak seperti Knight muda, sang kapten tidak menanyakan apapun dan hanya memberikan tatapan tajam kepada Red.

“...Baiklah. Kami serahkan padamu. Semuanya mundur!! Kita akan bergabung dengan pasukan penjaga belakang!!”

Setelah merenung beberapa detik, sang kapten memutuskan untuk mundur. Sebagai satu-satunya kapten yang bertanggung  jawab, dia membuat keputusan yang cepat.

“Kapten!?”

“Kau juga, cepatlah naik ke kuda mu! Kita akan mundur!”

“Tapi”

“Kita akan mempercayakan tempat ini kepada nya... Kita hanya akan menghalanginya saja.”

Sang Kapten membungkuk kepada Red.

“Kau menolong teman ku, kami ingin mengucapkan  rasa terima kasih kami.”

“Aku tidak melakukan ini untuk mendapatkan imbalan. Lebih dari itu...”

“Ya, kami akan mundur segera... Aku hanya ingin bertanya sesuatu. Apa mungkin, kau adalah master dari Schnee-dono ...” (Are you, by any chance, Schnee-dono’s..”)

“Aku adalah pemegang surat pengantar.”

“...Ah. Aku mengerti.”

Sang pemuda terkejut karena mendengar pembicaraan kedua orang tersebut. Tapi pada saat bersamaan dia juga mengerti. Ini memang hal yang umum untuk mengetahui akal sehat tidak berlaku untuk orang-orang yang memegang surat pengantar Tsuki no Hokora.

Sang pemuda naik ke kuda yang dinaiki oleh teman Knight nya. Mereka meninggalkan tempat itu bersama dengan kapten mereka. Anehnya, tidak ada serangan yang masuk dari monster sekitar. Malahan, tatapan mereka semua ditujukan kepada Red, kejadian itu seperti para monster tidak melihat sang pemuda beserta teman-temannya.

Setelah mereka menjauh sekitar 50 mel, sesuatu seperti suara ledakan terdengar dari belakang mereka.

“!!”

Ketika sang pemuda melihat ke arah belakang, dia melihat kejadian spektakuler di mana monster-monster berubah menjadi potongan daging yang berhamburan di udara.

Tidak ada percikan api ataupun ledakan api yang terlihat, jadi mungkin itu bukanlah sihir api. Tapi, dia tau kalau pusat dari suara ledakan itu sangatlah mengerikan.

50 mel. Benar, mereka sudah menjauh sejauh 50 mel. Tapi, jarak mereka dari sumber suara belum cukup jauh. Efek dari serangan itu masih bisa mengenai mereka.

Kuda mereka sudah berlari sekencang mungkin. Teman Knight nya mungkin merasakan bahaya juga. Dia bahkan tidak menoleh kebelakang.

“Indah sekali...”

Sang pemuda tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari tempat kejadian.

Karena sudut pandangnya lebih tinggi saat dia menaiki kuda, dia berhasil menjaga penglihatannya ke titik pusat serangan.

Kejanggalan yang terjadi benar-benar terlihat dengan jelas.

“Ku!!”

Dalam sekejap, tembok yang terbentuk oleh monster hancur. Itu adalah serangan milik Red.

Meski mereka sudah bergerak cukup jauh, tekanan dari serangan Red terasa sangat dekat.

Ledakan terus berlanjut dan area di mana sisa-sisa monster dan darah yang berterbaran di udara makin membesar.

Red yang akhirnya terlihat, belum bergerak sama sekali dari tempat di mana mereka berpisah.  Meskipun armornya penuh dengan darah monster, armor tersebut tidak berhenti untuk mengeluarkan cahaya. Bahkan, itu terlihat lebih semangat untuk memamerkan keberadaannya.

Sudah berapa banyak monster yang Red hadapi? Sang pemuda tidak mengerti. Jumlah adalah kekuatan. Tidak peduli seberapa kuat dia, cepat atau lambat dia pasti akan akan hancur oleh gelombang monster yang tak berujung.

Fakta tersebut masih berlaku untuk Chosen One. Tapi, seolah-olah pikiran sang pemuda itu tidak masuk akal, Red menunjukan serangan yang dahsyat.

Setiap kali Scythe diayunkan, Scythe tersebut akan menghasilkan pedang merah. Saat pedang tersebut melewati monster, tubuh monster akan terbelah dan hancur berkeping-keping. Level ras dan fisik monster tidak berpengaruh di hadapan serangan tersebut.

Tumpukan mayat yang seharusnya menumpuk dan menjadi halangan malah tertiup oleh badai yang dihasilkan oleh pedang merah.

Di mata sang pemuda itu ada sedikit keraguan kalau Red adalah malapetaka.

Dia terlihat tidak peduli dengan monster yang medekat; semuanya tertelan oleh badai yang mengamuk.

Hal seperti jumlah bukanlah masalah.

“Itu...”

Sang pemuda menyadari sesuatu seperti bayangan di dalam badai yang mengamuk di medan tempur.

Matanya hampir tidak bisa membedakan bentuk Scythe yang Red pegang.

Saat pertama kali dia melihatnya, dia yakin kalau hanya ada satu pedang. Tapi sekarang, jumlah pedangnya meningkat menjadi dua.

Tidak, Scythe tersebut memang memiliki 2 pedang. Sang pemuda teringat dengan garis zig-zag yang terlihat seperti ‘mulut’. Sepertinya pedang tersebut terbagi menjadi 2 di sepanjang garis, dari atas ke bawah dan berubah bentuk seperti rahang besar.

“Apa senjata itu... memakan mereka?”

Pedang yang membelah memakan daging dan darah monster. Cara misterius yang muncul untuk mencari darah menambahkan keanehan dan menghantui pikiran sang pemuda.

Sebelumnya sang pemuda mengamati pola yang seperti mata di pangkal pedang Scythe. Dan sekarang, mata itu mengeluarkan cahaya ungu gelap. Sepertinya itu untuk memberikan  kesan bahwa dia hidup dengan kehendak sendiri. Pemuda itu yakin bahwa tidak ada yang suci atau murni tentang kehendak itu.

Seseorang yang mengamati kilauan sinar itu, akan merasa bahwa Scythe itu kegirangan melakukan pembataian.

Sudah jelas bahwa itu adalah Cursed Weapon.

Meski pada umumnya perlengkapan aneh akan menarik banyak perhatian, hal yang paling tidak normal bukanlah perlengkapan itu sendiri melainkan orang yang menggunakannya.

Fakta bahwa Red dapat terus bertarung dengan tenang sambil menggunakan senjata itu adalah hal yang paling tidak normal.

Sementara penyebaran kerusakan dapat digambarkan sebagai pembantaian, tidak ada aspek serangan sia-sia yang dia lakukan.

Dia tidak hanya menggunakan kekuatan dari senjatanya saja. Ayunannya sangat pas dengan performanya. Tehnik miliknya membuatnya dapat melakukan satu serangan kuat ke monster dan tanpa jeda mengarahkan serangan ke target lain. Recoil dari serangan pertama tidak dia sia-sia kan, malahan dia gunakan untuk menghubungkannya ke serangan lain.

Meski terkadang Martial Art yang kuat terlihat seperti menari, pergerakan Red juga terlihat seperti sedang menari. Sedangkan untuk sekumpulan monster, mereka terlihat seperti sudah di atur saat mereka di hajar.

Itu adalah performa dari armor merah yang menyala dan Scythe yang berubah bentuk.

Itu seperti Red berada di dalam dan di luar wilayah badai, dan ruang kosong di sekelilingnya terus meluas.

“………”

Dengan jarak yang cukup jauh dari gerombolan monster, Knight yang melihatnya dari awal terjekut dan hanya menatap takjub sampai mereka lupa untuk selalu siaga. Berbeda dengan pemuda yang melihatnya dari dekat, mereka tidak tau harus bereaksi apa terhadap tontonan yang gila dan tidak bisa dipercaya itu.

Perubahan yang terjadi saat Red mengayunkan Scythe nya begitu dramatis.

Beberapa monster yag seharusnya mengarah ke Balmel tiba-tiba berbalik arah. Selain itu, monster disekitar wilayah itu, satu per satu mulai merubah arah gerak mereka.

Kapten dari grup 3 lah yang menyadari bagaimana monster merubah arah dan bergerak ke arah badai berwarna merah gelap yang bertiup kencang ke arah yang sama.

Efek areanya sudah melebihi 100 mel dan masih terus membesar.

Kalau begini terus, bukankah kita juga akan terkena badai itu? Dia sangat khawatir dengan jangkauannya yang sangat luas.

Jumlah monster terus berkurang di tingkat yang sangat menakutkan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh badai itu terus melebar.

Seolah-olah monster secara sukarela melompat ke api yang menyala.

Memakan kehidupan monster, kekuatan ganas milik Scythe terus meningkat.


◆◆◆◆


Berdiri di atas benteng, Tiera dan Kaede menyadari bahwa hampir semua monster di medan tempur berkumpul di sekitar Shin.

Apa itu adalah efek dari armornya? Atau dari senjata (Scythe) nya? Ketika dilihat dari atas, monster-monster yang menghadapi Shin terlihat seperti mengikuti sesuatu yang menyala berwarna merah samar-samar. Sepertinya cahaya itu bisa menarik perhatian monster-monster.

Jangkauannya sangat luas. Tidak ada kata lain yang pas untuk mendeskripsikannya.

Jumlah monster saat ini masih bisa dibilang seperti gelombang hitam. Jangkauan efek senjata begitu besar sampai besaran mel terlalu kecil untuk dijadikan satuan, saking besarnya semuanya terpengaruh olehnya.

“...Apa itu?”

“Itu bukanlah musuh, jadi ini baik-baik saja. Yah, walaupun aku mengatakan aku merasa lega melihatnya, itu mungkin terdengar tidak meyakinkan.”

“Um.. Apa dia teman?”

“Yap, itu benar. Tak heran jika dia dia datang ke sini.”

Setelah Tiera meyakinnya, Kaede juga ikut menyantaikan tangannya yang sedang memegang staffnya dengan erat.

Meski Tiera tau identitas sebenarnya dari orang itu, melihat dari reaksi Kaede terhadap orang misterius itu, dia mungkin akan takut dengannya. Walaupun orang itu masih bertarung melawan monster, tidak ada jaminan kalau pedangnya tidak akan diarahkan ke mereka.

Kekuatann yang ditunjukan di depan mata Kaede telah melebihi batas yang dimiliki oleh Chosen Ones kelas atas di dunia ini.

Sudah pasti itu masuk ke dalam kategori ‘Makhluk Spesial’ seperti Schnee dan Girard.

“Sudah kurang dari ½ monster yang tersisa.”

Meski Kaede tidak menyadarinya karena dia hanya fokus ke arah Shin dari tadi, jumlah monster sekarang sudah tersisa sekitar 1/3 dari jumlah aslinya. Yang tadinya tertutupi oleh monster, sekarang sudah begitu jelas jika dilihat dari atas benteng.

“Ah!”

Di dalam penglihatan Kaede, karena dia dapat melihat seluruh pemandangan, sesuatu yang aneh terjadi.

Bola terbang.

Dibandingkan dengan monster sekitar, diameternya bisa diperkirakan sebesar 2 mel.

Warna coklat dan ungu bercampur dipermukaannya, dan ditambah ada berbagai macam mata.

Ada mata yang seperti mata human, pupil seperti kucing, mata seperti serangga dan bola mata hitam penuh.

Berbagai macam ukuran mata itu berkisar dari 1 cemel sampai puluhan cemel, dan mata itu memperhatikan area sekitarnya.

Dan kemudian, tiba-tiba beberapa dari mata itu menatap Kaede.

“Uhh!”

Karena terkejut, Kaede mencoba untuk mengalihkan mukanya. Rasa sakit yang tajam dan rasa berdeyut menimpa kepalanya. Itu adalah rasa yang belum pernah dia alami sebelumnya. Dia tidak bisa menahannya dan memaksanya untuk berlutut.

Padangannya berubah menjadi gelap seketika, namun, kesadarannya tidak menghilang.

Meski hampir tidak memiliki rasa pada tubuhnya, dia memiliki firasat yang mengerikan bahwa ada sesuatu yang mencoba memasuki dirinya. Walaupun hanya sakit saja yang jelas bisa ia rasakan saat ini.

“a...Ug...”

“Eh! Ada apa!?”

Tiera terkejut dengan perubahan yang terjadi pada Kaede. Walaupun hanya tinggal menunggu waktu saja sampai monster habis, tapi Kaede tiba-tiba mengeluarkan erangan kesakitan.

“Kaede-chan! Kaede-chan!”

Kaede terlihat seperti dia bisa terjatuh kapanpun, Tiera pun segera memeluknya dengan erat dan meyemangatinya.

Kemudian, Kaede mempercayakan tubuhnya ke Tiera saat dia kehilangan kekuatan. Keringat muncul di dahinya.

“Eh...?”

“Kaede-chan? Apa kau bisa mendengarku?”

Dia kehilangan kesadaran untuk sesaat. Tiera berbicara sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dan menjaga Kaede. Tanpa mengetahui alasannya, Tiera merasa lemah seolah-olah kekuatannya keluar dari tubuhnya.

(Perasaan ini, sebenarnya apa ini...)

Pikiran Kaede terbebas di tengah-tengah perang. Ada pertarungan besar saat ini. Sementara kondisi fisiknya mungkin tidak biasa, dia kembali medapatkan kesadarannya.

Setelah Kaede mengusap keringatnya, dia berterimakasih kepada Tiera lalu berdiri.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Ya, aku sudah mendingan. Ada monster yang aneh di medan tempur, kalo tidak salah, dia memiliki mata dan tiba-tiba kepala ku sakit.”

“Apa dia menggunakan serangan pikiran? Omong-omong, aku senang kau tidak terkena status abnormal.”

Meski Tiera tidak bisa melihat keseluruhan stat milik Kaede karena perbedaan level, dia masih bisa melihat indikasi dari status debuff.

Setelah mengkonfirmasi tidak ada indikasi debuff, Tiera membiarkan Kaede beristirahat lalu mengarahkan penglihatannya ke medan tempur.

Apa yang Tiera lihat adalah adegan dimana monster-monster yang meniru wujud bola, terpotong menjadi 2 oleh Scythe milik Shin.

Selama itu, Tiera sedang diamati oleh Yuzuha.

Yuzuha menyaksikan tubuh Tiera mengeluarkan cahaya redup sambil memegang Kaede yang benar-benar berhasil menghilangkan kabut hitam yang melingkar di sekelilingnya.

“Kuu”

Yuzuha mengeluarkan suara kecil dimana tidak ada seorangpun yang dapat mendengarnya.

Setelah itu, Yuzuha menatap Tiera sampai pertempuran selesai, berusaha untuk melihat wujud yang bernama Tiera.


◆◆◆◆


Sambil menarik perhatian banyak orang, Shin , yang dikenal juga sebagai Red, mengayunkan Scythe yang dia pegang.

Setelah pembicaraannya, dia menunggu untuk para Knight mundur. Setelah itu, dia hanya berlari liar kesana sini.

Setelah dia menghancurkan Berserks, monster terkuat sejauh ini sampai mati, pekerjaan itu menjadi rutinitas sederhana seperti yang dia harapkan.

“Tapi...”

Suara keluhan kecil keluar.

Karena hal yang tidak dia duga terjadi.

“Sial, Apa Cursed Weapon seberisik ini?”

Awalnya ini tidak berisik, tapi saat dia mengeluarkan kemampuan Scythe dan membunuh monster-monster, sebuah suara mulai bergema di dalam kepala Shin.

Catatan penjelasan untuk Scythe tertulis bahwa itu dapat mempengaruhi pikiran.  Mungkin karena Scythe terus mengulangi kata “KILL, KILL”.

Scythe yang Shin gunakan saat ini disebut 『Scythe of Soul Eating』.

Salah satu kemampuannya adalah untuk memfokuskan kebencian monster kepada orang yang menggunakan senjata tersebut. Semakin banyak monster ia bunuh, semakin besar juga efek areanya. Ditambah lagi, sebagian dari kerusakan yang dihasilkan akan dikembalikan ke pengguna. Namun, meski Cursed Equipment meningkatkan kemampuan, resiko yang ditimbulkan lebih besar.

Dan sebagai Cursed Weapon, 『Scythe of Soul Eating』memiliki resiko yang lebih besar dibanding Cursed Equipment.

Monster yang berada di dalam area kebenciannya akan dikumpulkan ke pengguna, dan jarak serang akan meningkat berbanding lurus dengan tingkat kerusakan yang tinggi. Alasan mengapa sebagian dari kerusakan diubah menjadi HP pengguna adalah untuk memungkinan pemain solo bertarung melawan musuh bergrup. Dalam event pertahanan kota, hampir setengah dari monster akan ter taunt dan diserang oleh pemain yang menggunakan senjata ini.

Kekurangannya adalah stat pengguna akan akan berkurang sebesar 65%, sihir tidak bisa digunakan, dan mustahil untuk memulihkan HP selain menggunakan kemampuan Scythe. Selain itu, ini dapat mentaunt serangan sihir kawannya. Senjata ini memiliki lebih banyak kerugian daripada keuntungan. Apa lagi, Cursed Equipment selalu memberikan efek yang jelek untuk pikiran pengguna.

Tidak perlu dikatakan dalam jangkauan senjata, tidak ada perbedaan antara teman dan musuh. Ini adalah jenis peralatan  yang akan mengkonsumsi 100% dari sekutu yang bertarung di dekatnya.

Karena laju penurunan hanya berkurang menjadi 50% bahkan jika peralatan itu telah di perkuat, kematian masih tak terelakkan. Semua pemain yang menggunakan ini mati di dalam event.

Karena sudah datang ke dunia ini, Shin telah memperkuat senjata nya menggunakan tehniknya dan mengecilkan pengurangan stat sampai 30%.

Selain itu, karena seluruh tubuh Shin telah tertutupi oleh armor 『Holy Flame Series』, efek dari Cursed Equipment berkurang. Jadi dia dapat menggunakan sihir dan memulihkan HP sampai batas tertentu.

Ketika tiba saatnya, dia tidak perlu khawatir lagi dengan kerugian. Dia seharusnya bisa bertarung tanpa masalah.

Tapi, ketika jumlah monster yang terbunuh mencapai angka 500, suara yang disebutkan sebelumnya mulai mempengaruhi pikiran Shin.

Bahkan jika seorang Chosen One kelas atas mendengar suara itu, harus berjuang untuk menjaga kewarasannya. Suara yang menyerang pikiran Shin mulai membuat suatu kemajuan.

“Ahh, ini menyebalkan.”

Meski dia berkata seperti itu, Shin jauh dari ketidakwarasan. Efeknya hanya cukup utuk menghalangi suasana hatinya.

“Aku tidak menyadarinya saat aku mencobanya, tapi ada suara yang mengalir tanpa henti dengan volume yang halus. Ini MENGGANGGU!!”

Apa itu karena dia berteriak? Monster-monster yang hancur bertambah 20% lebih banyak.

Pada tingkat ini, Cursed Equpment tidak bisa melakukan lebih dari mengganggu Shin.

Orang-orang yang mengamati, tidak akan pernah berpikir bahwa Shin akan mengatakan hal semacam itu dari dalam pusat badai.

“Sudah waktunya bagimu untuk keluar...”

Setelah memutuskan untuk mengabaikan suara dari Cursed Weapon, Shin mengarahkan tatapannya ke area sekitarnya lagi.

Karena dia saat ini sedang menghadapi monster yang telah diperkuat, dia yakin bahwa monster tipe pemimpin seperti Raid Vice berada di dekatnya. Mengetahui hal itu, cepat atau lambat Raid Vice akan terkena jaringnya.

Menggunakan 『Scythe of Soul Eating』adalah cara yang efisien untuk mengungari jumlah musuh, selain dari masalah yang ditimbulkan karena menggunakan Cursed Weapon.

Berbeda dengan serangan biasa, karena kebencian musuh ditujukan kepada pengguna, hampir mustahil untuk serangan tidak mengenai musuh.

Ini bahkan mungkin untuk membuat monster yang sudah menuju ke Balmel untuk kembali.

Saat jangkauan Scythe meluas, ini bahkan mungkin untuk menarik pemimpin monster kepadanya.

Sang pemimpin bersembunyi di bayang-bayang monster lain. Karena membutuhkan waktu untuk melihat musuh dengan jelas, Shin tidak tau dimana dia berada. Oleh karena itu, dia menggunakan strategi yang akan menariknya keluar dengan paksa.

“...Ketemu kau!”

Di area dimana monster berkumpul ramai dan individu-individu tidak bisa di bedakan, ada reaksi yang berbeda dari yang lain dalam rentang persepsi milik Shin. Karena monster-monster ditarik ke arah Shin, monster di area itu berkurang.

Di depan Shin, muncul monster yang bentuknya mirip dengan bola dan memiliki banyak mata besar.

Itu adalah monster yang Shin kenal. Demon kelas Viscount yang sering terlihat di event dimana monster menyerang kota. Rupanya, demon telah memulai kembali aktifitas berskala penuh.

Tapi, mereka sedang tidak beruntung saat ini. Monster itu diklasifikasikan sebagai demon kelas rendah, jadi itu tidak dapat menahan satu serangan dari Shin.

Apa dia melakukan upaya terkahir? Matanya menghadap ke arah Shin. Ini biasanya digunakan untuk memasukan status abnormal, tapi itu tidak berpengaruh pada Shin.

“Itu tidak akan berkerja padaku!!”



Dengan satu serangan yang berisi semua stres yang menumpuk, Shin menebas demon menjadi dua. Demon itu menghilang meninggalkan sesuatu seperti gem dan jewel.

Apa mungkin karena demon itu menjadi pemimpin? Meski monster-monster berdatangan ke Shin sampai mereka habis, ketika mereka akhirnya dimusnahkan, tidak ada satu serangan pun yang berhasil mendarat ke Shin.

Saat dia menghubungi Schnee, dia mengatakan ada beberapa lagi di sisi lain.

Sambil menghilang menggunakan Hiding, Shin kembali ke tempat semula ke tempat dimana Hibineko dan yang lainnya berada.

Tanpa ada isiden yang terjadi, ‘Large Flood’ akhirnya berakhir.

Terdapat beberapa orang yang terluka diantara Knight yang bertarung melawan monster. Itu sedikit jauh dari yang diharapkan, tapi para penduduk merasa senang dengan fakta bahwa ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Balmel tentang ‘Flood’ bahwa tidak ada yang mati.



6 komentar:

  1. makasih kak. semangat terus.
    sehat selalu.
    akirnya yang ditunggu keluar.

    BalasHapus
  2. Thaks gan, semangat gan.

    BalasHapus
  3. Kapan up lgi min ?? Cuman disini aja yg translate nya bagus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyak atas pujiannya ^_^
      Akan kami usahakan tepat waktu

      Hapus